Bismillahirramanirrahim
Ceritanya, ketika Nasruddin menjadi hakim. Saat beliau sedang mencatat perkara yang masuk, dua orang lelaki datang mengadu. Masing-masing mengaku sebagai pemilik sehelai jubah dan tidak ada yang mau mengalah.
Nasruddin menyuruh mereka memegang ujung jubah itu. Lalu dengan cuek beliau kembali bekerja. Asyik sekali beliau bekerja seolah tak hirau dengan dua lelaki yang berdiri di depan mejanya sambil memegang ujung jubah.
Sekian menit kemudian, Nasruddin dengan keras membentak, " Hi maling! Serahkan jubah itu pada yang punya!"
Secara sepontan salah seorang dari mereka melepaskan ujung jubah yang dia pegang. Dengan demikian tahulah Nasruddin siapa pemilik jubah itu.
Begitulah. Orang yang bersalah memang sulit membohongi dirinya sendiri. Seribu orang bisa di kelabui dengan mimik wajah atau kepiawaian berakting. Tapi, hati kecilnya sendiri tidak mungkin di kelabui. Hatilah, menurut ulama sufi, pusat motivasi dan pengetahuan kita. Hati bahkan bisa mengetahui apa yang di ingkari oleh pikiran rasional. Olah karena itulah Nabi s.a.w. berpesan: "Istafti qalbak (mintalah fatwa pada hatimu); kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah. Di sini hati menjadi tempat bertanya bagi kita kala harus memutuskan sesuatu yang penting. Ia sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih.
Dalam hadis lain, hati pulalah penentu kualitas seseorang. "Hati bagaikan raja, dan hati memiliki bala tentara. Bila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya."
By al Tirmidzi