11 Juni, 2009

Medical Ethics Manual (Panduan Etika Medis)

PANDUAN ETIKA MEDIS BAB I
Disertai studi kasus-kasus etika pelayanan medis sehari-hari World Medical Association
Medical Ethics Manual
Diterbitkan oleh:
Pusat Studi Kedokteran Islam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
INDONESIA Dilampiri Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
PANDUAN ETIKA MEDIS

Katalog Dalam Terbitan (KDT) Williams, John R (john Reynold). Pandua Etika Medis/John R. Williams; Penerjemah: Tim Penerjemah PSKI FK UMY.

Judul Asli: Medical Ethics Manual
Penulis: Prof. John R. Williams
Penerbit: Ethics Unit of the World Medical Association
Cetakan: Pertama 2005
Edisi Indonesia:
PANDUAN ETIKA MEDIS
Penerjemah
: Tim Penerjemah PSKI FK UMY.
Editor
: dr. Sagiran, M.Kes
Penerbit
: Pusat Studi Kedokteran Islam Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Link http://www.wma.net/

APAKAH ETIKA KEDOKTERAN ITU?
Perhatikan kaus-kasus berikut ini, yang sangat mungkin terjadi hampir di semua negara:
1. dr. P seorang ahli bedah yang berpengalaman, baru saja akan menyelesaikan tugas jaga malamnya di sebuah rumah sakit sedang. Seorang wanita muda dibawa ke RS oleh ibunya, yang langsung pergi setelah berbicara denga suster jaga bahwa dia harus menjaga anak-anaknya yang lain. Si pasien mengalami perdarahan vaginal dan sangat kesakitan. dr. P melakukan pemeriksaan dan menduga bahwa kemungkinan pasien mengalami keguguran atau mencoba melakukan aborsi. dr. P segera melakukan dilatasi dan curettage dan mengatakan kepada suster untuk menanyakan kepada pasien apakah dia bersedia opname di rumah sakit sampai keadaaanya benar-benar baik. dr. Q datang menggantikan dr. P, yang pulang tanpa berbicara langsung kepada pasien.
2. dr. S sangat jengkel dengan pasien-pasien yang datang kepadanya yang sebelum atau sesudahnya berkonsultasi dengan dokter lain untuk masalah yang sama. dr. S menganggap ini merupakan pemborosan dan juga merugikan bagi kesehatan pasiennya. dr. S memutuskan untuk berbicara kepada pasien-pasien tersebut bahwa dia tidak akan merawat mereka jika mereka tetap menemui dokter lain untuk penyakit yang sama. dr. S bermaksud mendekati ikatan dokter di negaranya agar dapat melobi pemerintah untuk mencegah terjadinya kesalahan alokasi sumber-sumber pelayanan medis seperti ini.
3. dr. C, ahli anastesi yang baru ditunjuk di RS di suatu kota, merasa terganggu dengan
tingkah laku dokter bedah senior di ruang operasi. Dokter bedah tersebut menggunakan teknik yang kuno yang dapat memperlama waktu operasi, menimbulkan rasa sakit post-operasi yang lebih, dan waktu penyembuhan yang lebih lama. Terlebih lagi dia membuat guyonan kasar mengenai pasien yang jelas mengganggu para perawat yang bertugas. Sebagai salah satu staff baru, dr. C merasa enggan untuk mengkritik dokter bedah tersebut secara pribadi atau melaporkannya kepada pejabat yang lebih tinggi. Namun dr. C merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini.
4. dr. R, dokter praktek umum di sebuah kota kecil, didekati oleh organisasi penelitian
agar ikut serta dalam uji klinik suatu obat AINS untuk osteoartritis. Dia ditawari sejumlah uang untuk setiap pasien yang dia ikut sertakan dalam uji tersebut. Wakil organisasi tersebut meyakinkan bahwa penelitian ini telah mendapatkan semua ijin yang diperlukan termasuk dari Komite Etik Kedokteran. dr. R belum pernah ikut serta dalam uji klinik sebelumnya dan merasa senang dengan kesempatan ini, terutama dengan uang yang ditawarkan. Dia menerima tawaran tersebut tanpa lebih jauh lagi menanyakan aspek etis dan ilmiah dari penelitian tersebut. Dari setiap kasus tersebut mengandung refleksi etis. Kasus-kasus tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pembuatan keputusan dan tindakan dokter bukan dari segi ilmiah ataupun teknis seperti bagaimana menangani diabetes ataupun bagaimana melakukan operasi double bypass, namun pertanyaan yang muncul adalah mengenai nilai, hak-hak, dan tanggung jawab. Dokter akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini sesering dia menghadapi pertanyaan ilmiah maupun teknis.

Di dalam praktek kedokteran, tidak peduli apakah spesialisasinya maupun tempat kerjanya, beberapa pertanyaan lebih mudah dijawab dibandingkan pertanyaan lain. Melakukan reposisi fraktur simpel dan melakukan penjahitan luka robek simpel hanya memberi sedikit tantangan kepada dokter yang sudah terbiasa melakukan prosedur tersebut. Namun di pihak lain dapat saja ada ketidakpastian dan ketidaksetujuan yang besar mengenai penanganan suatu penyakit, walaupun untuk penyakit yang sangat umum seperti TBC dan hipertensi. Walaupun demikian, pertanyaan-pertanyaan etis di dalam pengobatan tidaklah selalu menantang. Beberapa relatif mudah dijawab, terutama karena sudah ada konsensus bagaimana menghadapi situasi tersebut dengan benar (sebagai contoh, dokter harus selalu menanyakan ijin pasien sebagai subjek penelitian). Pertanyaan lain lebih sulit, terutama jika belum ada konsensus yang disepakati atau jika semua alternatif memiliki kekurangan (sebagai contoh, menentukan rasio sumber daya pelayanan medis yang jarang/langka).
Jadi apakah sebenarnya etika itu dan bagaimanakah etika dapat menolong dokter berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Secara sederhana etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap moral secara sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku baik pada masa lampau, sekarang atau masa mendatang. Moralitas merupakan dimensi nilai dari keputusan dan tindakan yang dilakukan manusia. Bahasa moralitas termasuk kata-kata seperti ’hak’, ’tanggung jawab’, dan ’kebaikan’ dan sifat seperti ’baik’ dan ’buruk’ (atau ’jahat’), ’benar’ dan ’salah’, ’sesuai’ dan ’tidak sesuai’. Menurut dimensi ini, etika terutama adalah bagaimana mengetahuinya (knowing), sedangkan moralitas adalah bagaimana melakukannya (doing). Hubungan keduanya adalah bahwa etika mencoba memberikan kriteria rasional bagi orang untuk menentukan keputusan atau bertindak dengan suatu cara diantara pilihan cara yang lain.

Karena etika berhubungan dengan semua aspek dari tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia maka etika merupakan bidang kajian yang sangat luas dan kompleks dengan berbagai cabang dan subdevisi. Fokus dari Buku Panduan ini adalah etika kedokteran, salah satu cabang dari etika yang berhubungan dengan masalah-masalah moral yang timbul dalam praktek pengobatan. Etika kedokteran sangat terkait namun tidak sama dengan bioetika (etika biomedis). Etika kedokteran berfokus terutama dengan masalah yang muncul dalam praktik pengobatan sedangkan bioetika merupakan subjek yang sangat luas yang berhubungan dengan masalah-maslah moral yang muncul karena perkembangan dalam ilmu pengetahuan biologis yang lebih umum. Bioetika juga berbeda dengan etika kedokteran karena tidak memerlukan penerimaan dari nilai tradisional tertentu dimana hal tersebut merupakan hal yang mendasar dalam etika kedokteran sebagaimana yang akan terlihat di Bab II.

Sebagai suatu disiplin ilmu, etika kedokteran telah mengembangkan ragam kata tersendiri termasuk beberapa istilah yang dipinjam dari filsafat. Buku Panduan ini tidak dimaksudkan agar pembaca terbiasa dengan filsafat, sehingga definisi istilah kunci diberikan baik ketika kata tersebut muncul dalam teks maupun di dalam glossary di akhir buku manual ini.

MENGAPA HARUS BELAJAR ETIKA KEDOKTERAN?
”Asalkan dokter memiliki pengetahuan dan terampil, maka etika tidak akan jadi masalah” ”Etika itu dipelajari di dalam keluarga, tidak di sekolah kedokteran” ”Etika kedokteran dipelajari dengan mengamati bagaimana dokter senior bertindak, bukan dari buku atau kuliah” ”........etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap moral secara sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku.......” ”Etika itu penting, tapi kurikulum kita sudah terlalu penuh dan tidak ada ruang untuk mengajarikan etika” Ini merupakan beberapaalasan umum yang dikemukakan untuk tidak memberikan pelajaran etika mempunyai peran yang besar dalam kurikulum sekolah pendidikan dokter.

Sebagian, hanya sebagian saja, yang valid. Secara bertahap sekolah-sekolah pendidikan dokter di dunia mulai menyadari bahwa mereka perlu membekali mahasiswanya dengan sumber dan waktu yang cukup untuk belajar etika. Mereka memperoleh dukungan dari organisasi seperti World Medical Association dan World Federation for Medical Education (lihat Apendiks C). Pentingnya etika di dalam pendidikan dokter akan nampak di dalam Buku Manual ini. Sebagai kesimpulan, etika merupakan dan akan selalu menjadi komponen yang penting dalam praktek pengobatan. Prinsip-prinsip etika seperti menghargai orang, tujuan yang jelas dan kerahasiaan merupakan dasar dalam hubungan dokter-pasien. Walaupun begitu, penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam situasi khusus sering problematis, karena dokter, pasien, keluarga mereka, dan profesi kesehatan lain mungkin tidak setuju dengan tindakan yang sebenarnya benar dilakukan dalam situasi tersebut.

Belajar etika akan menyiapkan mahasiswa kedokteran untuk mengenali situasi-situasi yang sulit dan melaluinya dengan cara yang benar sesuai prinsip dan rasional. Etika juga penting dalam hubungan dokter dengan masyarakat dan kolega mereka dan dalam melakukan penelitian kedokteran.

ETIKA KEDOKTERAN, PROFESIONALISME KEDOKTERAN, HAK ASASI
MANUSIA DAN HUKUM
Seperti yang akan terlihat dalam Bab I, etika telah menjadi bagian yang integral dalam pengobatan setidaknya sejak masa Hippocrates, seorang ahli pengobatan Yunani yang dianggap sebagai pelopor etika kedokteran pada abad ke-5 SM,. Dari Hippocrates muncul konsep pengobatan sebagai profesi, dimana ahli pengobatan membuat janji di depan masyarakat bahwa mereka akan menempatkan kepentingan pasien mereka di atas kepentingan ”Belajar etika akan menyiapkan mahasiswa kedokteran untuk mengenali situasi-situasi yang sulit dan melaluinya dengan cara yang benar sesuai prinsip dan rasional” Sangat sering, bahkan etika membuat standar perilaku yang lebih tinggi dibanding hukum, dan kadang etika memungkinkan dokter perlu untuk melanggar hukum yang menyuruh melakukan tindakan yang tidak etis. mereka sendiri (lihat Bab III untuk penjelasan lebih lanjut). Kedekatan hubungan antara etika dan profesionalisme akan jelas di dalam Buku Manual ini.

Saat ini etika kedokteran telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan dalam hak asasi manusia. Di dalam dunia yang multikultural dan pluralis, dengan berbagai tradisi moral yang berbeda, persetujuan hak asasi manusia internasional utama dapat memberikan dasar bagi etika kedokteran yang dapat diterima melampaui batas negara dan kultural. Lebih dari pada itu, dokter sering harus berhubungan dengan masalah-masalah medis karena pelanggaran hak asasi manusia, seperti migrasi paksa, penyiksaan, dan sangat dipengaruhi oleh perdebatan apakah pelayanan kesehatan merupakan hak asasi manusia karena jawaban dari pertanyaan ini di beberapa negara tertentu akan menentukan siapakah yang memiliki hak untuk mendapatkan perawatan medis. Buku Manual ini akan memberikan pertimbangan yang sesuai terhadap masalah hak asasi manusia sebagimana hal itu akan mempengaruhi praktek pengobatan.

Etika kedokteran juga sangat berhubungan dengan hukum. Hampir di semua negara ada hukum yang secara khusus mengatur bagaimana dokter harus bertindak berhubungan dengan masalah etika dalam perawatan pasien dan penelitian. Badan yang mengatur dan memberikan ijin praktek medis di setiap negara bisa dan memang menghukum dokter yang melanggar etika. Namun etika dan hukum tidaklah sama. Sangat sering, bahkan etika membuat standar perilaku yang lebih tinggi dibanding hukum, dan kadang etika memungkinkan dokter perlu untuk melanggar hukum yang menyuruh melakukan tindakan yang tidak etis. Hukum juga berbeda untuk tiap-tiap negara sedangkan etika dapat diterapkan tanpa melihat batas negara. Karena alasan inilah fokus dari Buku Manual ini lebih pada etika dibandingkan hukum.

KESIMPULAN
Pengobatan merupakan ilmu dan seni. Ilmu berhubungan dengan apa yang bisa diamati dan diukur, dan dokter yang kompeten mengenali tanda-tanda dari kesakitan dan penyakit dan mengetahui bagaimana mengembalikan kesehatan yang baik. Namun pengobatan ilmiah memiliki keterbatasan terutama jika berhubungna dengan manusia secara individual, budaya, agama, kebebasan, hak asasi, dan tanggung jawab. Seni pengobatan melibatkan aplikasi ilmu dan teknologi pengobatan terhadap pasien secara individual, keluarga, dan masyarakat sehingga keduanya tidaklah sama.

Lebih jauh lagi bagian terbesar dari perbedaan individu, keluarga, dan masyarakat bukanlah non-fisiologis namun dalam mengenali dan berhadapan dengan perbedaan-perbedaan ini di mana seni, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan etika, memiliki peranan yang penting. Bahkan etika sendiri diperkaya oleh disiplin ilmu yang lain, sebagai contoh, presentasi dilema klinis secara teatrikal dapat menjadi stimulus yang lebih baik dalam refleksi dan analisis etis dibanding deskripsi kasus sederhana. Buku Manual ini hanya dapat memberikan pengetahuan dasar dari etika kedokteran dan beberapa masalah pokoknya.
Buku ini dimaksudkan untuk memberikan anda suatu apresiasi terhadap perlunya refleksi yang terus menerus terhadap dimensi etis dari pengobatan, dan terutama bagaimana bertindak terhadap masalah-masalah etis yang akan ditemui dalam praktek pengobatan. Daftar sumber-sumber yang dapat diakses diberikan dalam Apendiks B yang dapat membantu memperdalam pengetahuan anda tentang bidang ini.
"Banyak dokter yang
merasa mereka tidak lagi
dihormati sebagaimana
mereka dulu dihormati".

BAB I SIFAT-SIFAT PRINSIP ETIKA KEDOKTERAN
TUJUAN
Setelah selesai dari bab ini anda diharapkan mampu untuk:
• Menerangkan mengapa etika penting dalam pengobatan
• Mengidentifikasi sumber-sumber utama etika kedokteran
• Mengenali pendekatan-pendekatan berbeda dalam membuat keputusan etis, termasuk dari
anda sendiri

APAKAH YANG MENARIK DARI PENGOBATAN
Hampir sepanjang sejarah yang tercatat dan hampir di setiap bagian dunia ini, menjadi dokter merupakan sesuatu yang spesial. Orang datang kepada dokter untuk mencari pertolongan terhadap kebutuhan mereka yang mendesak: bebas dari rasa sakit, penderitaan, dan kembalinya kesehatan dan keadaan tubuh yang baik. Mereka mengijinkan dokter untuk melihat, menyentuh, dan memanipulasi setiap bagian dari tubuh, bahkan bagian yang paling intim. Mereka melakukan ini karena mereka percaya terhadap dokter agar bertindak menurut
kepentingan terbaik mereka.
Status dokter berbeda di setiap negara bahkan dalam satu negara. Secara umum situasi saat ini sepertinya lebih buruk. Banyak dokter yang merasa mereka tidak lagi dihormati sebagaimana mereka dulu dihormati. Di beberapa negara kontrol pelayanan medis telah bergeser dengan mantap menjauhi dokter kepada manager profesional dan birokrat yang sebagian melihat dokter sebagai penyulit dari pada partner dalam memperbaiki pelayanan medis.

Pasien yang dulunya menerima perintah dokter tanpa ragu kadang meminta penjelasan mengenai rekomendasi yang diberikan dokter karena berbeda dengan saran yang didapatkan dari praktisi kesehatan lain atau dari internet. Beberapa prosedur yang dulunya hanya bisa dilakukan oleh dokter saja sekarang dapat dilakukan oleh teknisi, perawat, atau paramedis. Selain perubahan-perubahan ini mempengaruhi status dokter, pengobatan tetap merupakan suatu profesi yang dihargai tinggi oleh orang yang sakit yang membutuhkan layanan. Pengobatan juga tetap menarik banyak sekali mahasiswa yang berbakat, pekerja keras, dan berdedikasi. Untuk memenuhi harapan pasien dan mahasiswa, penting bagi dokter mengetahui dan memberikan contoh nilai inti dari pengobatan mengetahui dan memberikan pengobatan terutama belas kasih, kompeten, dan otonomi. Nilai-nilai ini, bersama dengan penghargaan terhadap hak asasi manusia yang utama merupakan dasar dari etika kedokteran.

APAKAH YANG MENARIK DARI ETIKA KEDOKTERAN?
Belas kasih, kompeten, dan otonomi tidaklah eksklusif hanya pada pengobatan. Namun demikian, dokter diharapkan mengaktualisasikannya dengan derajat yang lebih tinggi dibanding orang lain, termasuk berbagai profesi yang lain. Belas kasih, memahami dan perhatian terhadap masalah orang lain, merupakan hal yang pokok dalam praktek pengobatan. Agar dapat mengatasi masalah pasien, dokter harus mengidentifikasi gejala yang dialami pasien dan penyebab yang mendasarinya dan harus bersedia membantu pasien mendapatkan pertolongan. Pasien akan merespon dengan lebih baik jika dia merasa bahwa dokternya menghargai masalah mereka dan tidak hanya sebatas melakukan pengobatan terhadap penyakit mereka.

Kompetensi yang tinggi diharapkan dan harus dimiliki oleh dokter. Kurang kompeten dapat menyebabkan kematian atau morbiditas pasien yang serius. Dokter menjalani pelatihan yang lama agar tercapai kompetensinya, namun mengingat cepatnya perkembangan pengetahuan medis, merupakan suatu tantangan sendiri untuk dokter agar selalu menjaga kompetensinya. Terlebih lagi tidak hanya pengetahuan ilmiah dan ketrampilan teknis yang harus dijaga namun juga pengetahuan etis, ketrampilan, dan juga tingkah laku, karena masalah etis baru muncul sejalan dengan perubahan dalam praktek kedokteran dan juga lingkungan sosial dan politik.

Otonomi, atau penentuan sendiri, merupakan nilai inti dari pengobatan yang berubah dalam tahun-tahun terakhir ini. Dokter secara pribadi telah lama menikmati otonomi klinik yang tinggi dalam menetukan bagaimana menangani pasien mereka. Dokter secara kolektif (profesi kesehatan) bebas dalam menentukan standar pendidikan dokter dan praktek pengobatan. Sebagaimana akan tampak dalam Manual ini, kedua jalan melatih otonomi dokter ini telah dimodernkan di berbagai negara oleh pemerintah dan penguasa melakukan kontrol terhadap dokter. Selain tantangan-tantangan ini, dokter masih menghargai otonomi profesional dan klinik mereka, dan mencoba untuk tetap menjaganya sebanyak mungkin.

Pada saat yang sama, juga terjadi penerimaan oleh dokter di penjuru dunia untuk menerima otonomi dari pasien, yang berarti pasien seharusnya menjadi pembuat keputusan tertinggi dalam masalah yang menyangkut diri mereka sendiri. Manual ini akan memberikan contoh adanya konflik yang potensial terjadi antara otonomi dokter dan penghargaan terhadap otonomi pasein.
Selain terikat dengan ketiga nilai inti tersebut, etika kedokteran berbeda dengan etika secara umum yang dapat diterapkan terhadap setiap orang karena adanya pernyataan di depan publik
di bawah sumpah seperti World Medical Association Declaration of Geneva dan/atau kode. Sumpah dan kode beragam di setiap negara bahkan dalam satu negara, namun ada persamaan, termasuk janji bahwa dokter akan mempertimbangkan kepentingan pasien diatas kepentingannya sendiri, tidak akan melakukan deskriminasi terhadap pasien karena ras, agama, atau hak asasi menusia yang lain, akan menjaga kerahasiaan informasi pasien , dan akan memberikan pertolongan darurat terhadap siapapun yang membutuhkan.

SIAPAKAH YANG MENENTUKAN SESUATU ITU ETIS?
Etika bersifat pluralistik. Setiap orang memiliki perbedaan terhadap penilaian benar atau salah bahkan jika ada persamaan bisa saja hal tersebut berbeda dalam alasannya. Di beberapa masyarakat, perbedaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal dan ada kebebasan besar bagi seseorang untuk melakukan apa yang dia mau, sejauh tidak melanggar hak orang lain. Namun di dalam masyarakat yang lebih tradisional, ada persamaan dan persetujuan pada etika dan ada tekanan sosial yang lebih besar, kadang bahkan didukung oleh hukum, dalam bertindak berdasarkan ketentuan tertentu. Dalam masyarakat tersebut budaya dan agama sering memainkan peran yang dominan dalam menentukan perilaku yang etis.

Jawaban terhadap pertanyaan, ”siapakah yang menentukan sesuatu itu etis untuk seseorang secara umum?” karena itu bervariasi dari satu masyarakat dibanding masyarakat yang lain dan
bahkan dalam satu masyarakat sendiri. Dalam masyarakat liberal, setiap individu memiliki kebebasan yang besar dalam menentukan bagi dirinya sendiri apakah yang etis, walaupun sepertinya mereka akan sangat dipengaruhi oleh keluarga, teman, agama, media, dan sumber- sumber eksternal lain yang mereka dapat. Dalam masyarakat yang lebih tradisional, keluarga dan garis keturunan, pemimpin agama, dan tokoh politik biasanya memiliki peran lebih besar dalam menentukan apa yang etis dan tidak etis bagi seseorang.

Terlepas dari perbedaan ini, sepertinya sebagian besar manusia setuju dengan beberapa prinsip fundamental dari etika, sebut saja, hak asasi manusia yang dinyatakan dalam United Nations Universal Declaration of Human Rights serta dokumen lain yang telah diterima dan tertulis secara resmi. Hak-hak asasi manusia yang terutama penting dalam etika kedokteran adalah hak untuk hidup, bebas dari deskriminasi, bebas dari siksaan dan kekejaman, bebas dari perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak pantas, bebas beropini dan berekspresi, persamaan dalam mendapatkan pelayanan umum di suatu negara, dan pelayanan medis.

Bagi dokter, pertanyaan ”siapakah yang menentukan sesuatu etis atau tidak?” sampai saat ini memiliki jawaban yang berbeda-beda dari apa yang etis untuk orang secara umum. Selama berabad-abad profesi kesehatan telah mengembangkan standar perilakunya sendiri untuk anggotanya, yang tercermin dalam kode etik dan dokumen kebijakan yang terkait. Dalam tingkatan yang global, WMA telah menetapkan pernyataan etis yang sangat luas yang mengatur perilaku yang diharuskan dimiliki oleh dokter tanpa memandang dimana dia berada dan melakukan praktek. Banyak ikatan dokter di suatu negara (jika tidak sebagian besar) bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pelaksanaan standar etis yang aplikatif.

Standar tersebut mungkin memiliki status legal, tergantung pendekatan negara tersebut terhadap hukum praktek medis. Meskipun demikian, kehormatan profesi kedokteran, karena dapat menentukan standar etika untuk dirinya sendiri, tidaklah absolut. Sebagai contoh:
• Dokter akan selalu dihadapkan pada hukum yang berlaku dimana dia berada dan kadang dihukum karena melanggar hukum.
• Beberapa organisasi kesehatan sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran agama, yang mengakibatkan adanya kewajiban tambahan terhadap anggotanya selain kewajiban dokter secara umum.
• Di banyak negara organisasi yang menetapkan standar bagi perilaku dokter dan memonitor kepatuhan, mereka memiliki anggota yang berpengaruh yang bukan dokter. Instruksi etis resmi dari suatu ikatan dokter secara umum sama, mereka tidak selalu dapat diterapkan di setiap situasi yang mungkin dihadapi dokter dalam praktek medis mereka. Di dalam kebanyakan situasi, dokter harus memutuskan untuk dirinya sendiri apakah yang benar untuk dilakukan, namun dalam mengambil keputusan tersebut, akan sangat membantu jika mereka mengetahui apa yang dilakukan dokter lain dalam situasi yang sama. Kode etik dokter dan kebijakan yang berlaku merupakan konsensus umum bagaimana seorang dokter harus bertindak dan harus diikuti kecuali ada alasan yang lebih baik mengapa harus melanggarnya.

APAKAH ETIKA KEDOKTERAN BERUBAH?
Hanya ada sedikit keraguan bahwa beberapa aspek etika kedokteran telah berubah. Sampai saat ini dokter memiliki hak dan tugas untuk memutuskan bagaimana pasien harus diobati dan tidak ada keharusan mendapatkan ijin tertulis pasien. Berbeda dengan versi WMA Declaration on the Right of the Patient tahun 1995 dimulai dengan kalimat: “Hubungan antara dokter, pasien mereka, dan masyarakat yang lebih luas telah mengalami perubahan yang nyata saat ini.

Walaupun seorang dokter harus selalu bertindak benar menurut pemikirannya, dan selalu berdasarkan kepentingan terbaik dari pasien, usaha yang sama juga harus tetap dilakukan dalam menjamin otonomi dan keadilan pasien”. Saat ini orang-orang mulai berfikir bahwa diri mereka sendiri merupakan penyedia kesehatan utama bagi mereka sendiri dan bahwa peran dokter adalah bertindak sebagai konsultan dan instruktur. Walaupun penekanan terhadap perawatan sendiri ini jauh dari keumuman, namun sepertinya terus menyebar dan menggejala dalam perkembangan hubungan pasien-dokter yang memunculkan kewajiban etik yang berbeda bagi dokter dibanding sebelumnya.

Hingga akhir-akhir ini dokter umumnya menganggap diri mereka sendiri bertanggung jawab terhadap diri sendiri, kepada kolega profesi kesehatan mereka, dan terhadap agama yang dianut, kepada Tuhan. Saat ini, mereka memiliki tanggung jawab tambahan – terhadap pasien mereka, kepada pihak ketiga seperti rumah sakit, organisasi yang mengambil keputusan medis terhadap pasien, kepada pemegang kebijakan dan perijinan praktek, dan bahkan sering kepada pengadilan. Berbagai tanggung jawab yang berbeda ini dapat saling bertentangan satu sama lain, yang akan terlihat dalam bahasan loyalitas ganda.

Etika kedokteran juga telah berubah dengan cara yang lain. Keterlibatan dalam aborsi dilarang
dalam kode etik dokter sampai beberapa saat yang lalu, namun sekarang dapat ditoleransi
dalam kondisi tertentu oleh profesi kesehatan di beberapa negara. Sedangkan dalam etika
”....dalam mengambil keputusan tersebut, akan sangat membantu jika mereka mengetahui apa yang dilakukan dokter lain dalam situasi yang sama.” ”..Berbagai tanggung jawab yang berbeda ini dapat saling bertentangan satu sama lain...”
Kedokteran tradisional dokter hanya bertanggung jawab terhadap pasien mereka secara pribadi, saat ini umumnya orang setuju bahwa dokter juga harus mempertimnbangkan kebutuhan masyarakat, contohnya dalam mengalokasikan sumber-sumber pelayanan medis yang terbatas .

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi medis memunculkan masalah etis baru yang tidak dapat dijawab oleh etika kedokteran tradisional. Reproduksi buatan, genetika, informatika kesehatan serta teknologi perbaikan kehidupan dan teknologi untuk memperpanjang kehidupan, kesemuanya memerlukan keterlibatan dokter, sangat berpotensi menguntungkan pasien namun juga sangat berpotensi merugikan pasien tergantung bagaimana menerapkannya. Untuk membantu bagaimana memutuskan dan dalam kondisi apa dokter dapat melakukan hal tersebut, ikatan dokter harus menggunakan metode analisis yang berbeda tidak hanya berdasarkan kode etik yang telah ada.

Selain perubahan dalam etika kedokteran yang jelas memang terjadi, sudah ada persetujuan diantara dokter bahwa nilai fundamental dan prinsip-prinsip etis tidaklah, dan memang seharusnya tidak berubah. Karena tidak bisa dihindari bahwa manusia akan selalu memiliki masalah kesehatan, mereka akan terus memerlukan dokter-dokter yang otonom, kompeten, dan berbelas kasih untuk merawat mereka.

APAKAH ETIKA KEDOKTERAN BERBEDA DI SETIAP NEGARA?
Sebagaimana etika kedokteran dapat dan memang berubah sejalan dengan waktu, dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi medis dan juga nilai-nilai sosial, maka etika kedokteran memang bervariasi dari satu negara dengan negara yang lain tergantung faktot-faktor tersebut. Suatu contoh pada kasus euthanasia, terdapat perbedaan yang nyata terhadap opini dari ikatan dokter di setiap negara.

Beberapa organisasi mengutuknya, sedangkan Ikatan Dokter Kerajaan Belanda memperbolehkannya dalam kondisi tertentu. Demikian juga yang berhubungan dengan kesempatan memperoleh pelayanan medis, beberapa ikatan dokter disuatu negara mendukung persamaan hak untuk semua warga negara, sedangkan di negara lain mentoleransi ketidaksamaan hak memperoleh pelayanan kesehatan bagi warganya. Di beberapa negara ada ketertarikan yang besar terhadap masalah-masalah etik yang muncul karena adanya kemajuan teknologi pengobatan sedangkan di negara yang tidak memiliki akses terhadap teknologi tersebut, masalah-masalah etik tentu tidak muncul. Dokter-dokter di beberapa negara cukup yakin bahwa mereka tidak akan ditekan oleh pemerintah untuk melakukan sesuatu yang tidak etis namun di negara lain ”WMA telah menjalankan peran dalam membangun standar umum etika kedokteran yang dapat diterapkan di seluruh dunia.”

Mungkin akan sulit bagi mereka memenuhi kewajiban etis, seperti menjaga kerahasiaan pasien jika berhadapan dengan polisi atau permintaan angkatan bersenjata untuk melaporkan adanya jejas/luka yang mencurigakan pada seorang pasien. Walaupun perbedaan ini terlihat sangat nyata, persamaan yang ada jauh lebih besar lagi.Dokter-dokter di seluruh dunia memiliki banyak persamaan, dan ketika mereka berhimpun bersama dalam suatu organisasi seperti WMA mereka biasanya akan mencapai suatu kesepakatan mengenai masalah-masalah etik yang kontroversial, walaupun kadang harus melewati debat yang panjang. Nilai pokok dari etika kedokteran, seperti belas kasih, kompetensi, dan otonomi, bersamaan dengan pengalaman dan ketrampilan di semua bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh dokter memberikan dasar dalam menganalisa masalah masalah etik dalam pengobatan dan memunculkan suatu solusi yang berdasarkan kepentingan terbaik bagi pasien secara pribadi dan warga negara serta kesehatan masyarakat secara umum.

PERAN WMA
Sebagai satu-satunya organisasi intenasional yang mencoba mewakili semua dokter tanpa memandang kebangsaan atau keahliannya, WMA telah menjalankan peran dalam membangun standar umum etika kedokteran yang dapat diterapkan di seluruh dunia. Dimulai pada tahun 1947 organisasi ini telah bekerja untuk mencegah terjadinya tindakan medis yang tidak etik yang terus terjadi yang dilakukan oleh dokter-dokter Nazi Jerman dan di tempat lain. Tugas pertama WMA adalah memperbaharui Sumpah Hippocrates yang bisa diterapkan di abad ke- 20 sehingga dihasilkan Declaration of Geneva, yang diadopsi pada WMA’s 2ndGeneral Assembly pada tahun 1948.

Deklarasi ini telah direvisi beberapa kali terutama dan terakhir pada tahun 1994. Tugas kedua adalah mengembangkan Kode Etik Kedokteran Internasional, yang dilakuakn pada General Assembly yang ke-3 pada tahun 1949 dan direvisi pada tahun 1969 dan 1983. Kode etik ini juga telah mengalami revisi lebih lanjut. Tugas berikutnya adalah mengembangkan acuan etik untuk penelitian dengan subjek uji manusia yang memerlukan waktu lebih lama dibanding dua tugas yang pertama sampai pada tahun 1964 acuan tersebut diadopsi sebagai Dekalarasi Helsinki. Dokumen ini juga telah mengalami revisi secra periodik dan terakhir direvisi pada tahun 2000.

”Mendapatkan kesepakatan internasional terhadap masalah- masalah etika yang kontroversial bukanlah tugas yang mudah,...”

Selain pernyataan-pernyataan mengenai etika yang fundamental tersebut, WMA juga telah mengadopsi pernyataan mengenai masalah-masalah tertentu lebih dari 200 masalah terutama sebagian besar mengenai etika secara umum, sedangkan lainnya berhubungan dengan bahasan sosio-medis, termasuk pendidikan dokter dan sistem kesehatan. Setiap tahun WMA General Assembly merevisi beberapa kebijakan yang telah ada dan/atau mengadopsi kebijakan- kebijakan baru.

BAGAIMANA WMA MEMUTUSKAN SESUATU ITU ETIS?
Mendapatkan kesepakatan internasional terhadap masalah-masalah etika yang kontroversial bukanlah tugas yang mudah, walaupun dalam kelompok yang sangat dekat seperti dokter. WMA menjamin bahwa pernyataan kebijakan mengenai etika merefleksikan suatu konsensus yang mendapatkan persetujuan dari 75% suara baik itu kebijakan baru maupun revisi terhadap kebijakan lama dalam pertemuan tahunan. Prekondisi untuk mencapai persetujuan dengan tingkat tersebut adalah dengan konsultasi terhadap draft pernyataan secara luas, pertimbangan yang hati-hati dari pendapat-pendapat yang diterima oleh komite Etika Kedokteran WMA dan kadang dengan cara membentuk suatu komisi tersendiri untuk suatu masalah yang ada,melakukan perbaikan draft pernyataan yang ada dan bahkan melakukan konsultasi lebih jauh lagi. Proses tersebut dapat memakan waktu yang lama, tergantung dari kompleksitas dan/atau kebaruan (hal yang baru) dari masalah yang ada.

Sebagai contoh, revisi Deklarasi Helsinki yang paling baru dimulai pada awal tahun 1997 dan selesai pada bulan Oktober tahun 2000. Bahkan sejak saat itu, tetap ada masalah-masalah di luar jangkauan dan terus dipelajari oleh Komite Etika Kedokteran dan juga komisi yang bersangkutan. Proses yang baik sangatlah penting walaupun tidak menjamin tercapainya hasil yang baik.

Dalam menentukan apakah suatu hal etis, WMA mengacu kepada tradisi etika kedokteran lama yang tecantum dalam pernyataan etis yang telah ada dan juga tetap memperhatikan posisi-posisi yang lain baik dari organisasi nasional maupun internasional dan juga perseorangan yang memiliki keahlian di bidang etika terhadap suatu masalah yang ada dengan berbagai pertimbangan yang sesuai. Pada beberapa masalah seperti ijin tertulis, WMA menemukan adanya kesepakatan dari sebagian besar pandangan yang ada. Pada masalah yang lain, seperti kerahasiaan informasi medis pasien, posisi dokter kemungkinan harus ditempatkan berlawanan dengan kehendak pemerintah, administrator sistem kesehatan dan/atau perusahaan komersial. Pendekatan yang dilakukan WMA terhadap suatu masalah ”Pada masalah yang lain, ....., posisi dokter kemungkinan harus ditempatkan berlawanan dengan kehendak pemerintah, administrator sistem kesehatan dan/atau perusahaan komersial.”

Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mengambil keputusan etis
dan dalam mengimplementasikannya. etika secara jelas merupakan prioritas yang didasarkan kepada pasien secara pribadi atau subjek penelitian. Mengutip dari Deklarasi Geneva, dokter berjanji, ”Kesehatan pasien saya akan selalu menjadi pertimbangan pertama saya”. Dan dari Deklarasi Helsinki menyebutkan, ”Dalam penelitian kedokteran dengan subjek manusia, pertimbangan mengenai kesehatan manusia sebagai subjek uji haruslah menjadi pertimbangan awal di atas kepentingan ilmu pengetahuan dan masyarakat”.

BAGAIMANA SESEORANG MEMUTUSKAN SESUATU ITU ETIS?
Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mengambil keputusan etis dan dalam mengimplementasikannya.Bagi dokter secara pribadi dan mahasiswa kedokteran, etika kedokteran tidak hanya terbatas pada rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan oleh WMA atau organisasi kesehatan yang lain karena rekomendasi tersebut sifatnya sangat umum dan setiap orang harus memutuskan apakah hal itu dapat diterapkan pada situasi yang sedang dihadapi atau tidak dan terlebih lagi banyak masalah etika yang muncul dalam praktek medis yang belum ada petunjuk bagi ikatan dokter. Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mengambil keputusan etis dan dalam mengimplementasikannya.

Ada berbagai cara berbeda dalam pendekatan masalah-masalah etika seperti dalam contoh kasus pada bagian awal Manual ini yang secara kasar dapat dibagi menjadi dua kategori: rasional dan non-rasional. Penting untuk mengingat bahwa non-rasional bukan berarti irrasional namun hanya dibedakan dari sistematika, dan alasan yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan.
Pendekatan-pendekatan non-rasional:
• Kepatuhan merupakan cara yang umum dalam membuat keputusan etis, terutama oleh anak-anak dan mereka yang bekerja dalam struktur kepangkatan (militer, kepolisian, beberapa organisasi keagamaan, berbagai corak bisnis). Moralitas hanya mengikuti aturan atau perintah dari penguasa tidak memandang apakah anda setuju atau tidak.

• Imitasi serupa dengan kepatuhan karena mengesampingkan penilaian seseorang terhadap benar dan salah dan mengambil penilaian orang lain sebagai acuan karena dia adalah panutan. Moralitas hanya mengikuti contoh yang diberikan oleh orang yang menjadi panutan. Ini mungkin cara yang paling umum mempelajari etika kedokteran, dengan panutannya adalah konsultan senior dan cara belajar dengan cara mengobservasi dan melakukan asimilasi dari nilai-nilai yang digambarkan.

• Perasaan atau kehendak merupakan pendekatan subjektif terhadap keputusan dan perilaku moral yang diambil. Yang dianggap benar adalah apa yang dirasakan benar atau dapat memuaskan kehendak seseorang sedangkan apa yang salah adalah yang dirasakan salah atau tidak sesuai dengan kehendak seseorang. Ukuran moralitas harus ditemukan di dalam setiap individu dan tentu saja akan sangat beragam dari satu orang ke orang lain, bahkan dalam individu itu sendiri dari waktu ke waktu.

• Intuisi merupakan persepsi yang terbentuk dengan segera mengenai bagaimana bertindak di dalam sebuah situasi tertentu. Intuisi serupa dengan kehendak dimana sifatnya sangat subjektif, namun berbeda karena intuisi terletak pada pemikiran dibanding keinginan. Karena itu intuisi lebih dekat kepada bentuk rasional dari keputusan etis yang diambil dari pada kepatuhan, imitasi, perasaan, dan kehendak. Meskipun begitu, intuisi sistematis ataupun penuh pemikiran namun hanya sebatas mengarahkan keputusan berdasarkan apa yang terbersit dalam pikiran saat itu. Seperti halnya perasaan dan kehendak, intuisi dapat bervariasi dari setiap individu, dan bahkan dari individu itu sendiri.

• Kebiasaan merupakan metode yang sangat efisien dalam mengambil keputusan moral karena tidak diperlukan adanya pengulangan proses pembuatan keputusan secara sistematis setiap masalah moran muncul dan sama dengan masalah yang pernah dihadapi. Meskipun begitu ada kebiasaan yang buruk (seperti berbohong) dan juga kebiasaan baik (seperti mengatakan dengan jujur) terlebih lagi ada berbagai keadaan yang sepertinya serupa namun tetap membutuhkan keputusan yang sangat berbeda. Walaupun kebiasaan ini sangat berguna, namun kita tidak boleh terlalu mengandalkannya. Pendekatan rasional:
Seperti juga kajian moralitas etika mengakui keumumam pendekatan-pendekatan non-rasional
tersebut dalam pengambilan keputusan dan perilaku. Meskipun demikian etika lebih terfokus kepada pendekatan-pendekatan rasional. Keempat pendekatan tersebut adalah deontologi, konsekuensialisme, prinsiplisme, dan etika budi pekerti:

• Deontologi melibatkan pencarian aturan-aturan yang terbentuk dengan baik yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pembuatan keputusan moral seperti ”perlakukan manusia secara sama”. Dasarnya dapat saja agama (seperti kepercayaan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan adalah sama) atau juga non-religius (seperti manusia memiliki gen-gen yang hampir sama). Sekali aturan ini terbangun maka hal tersebut harus diterapkan dalam situasi ilmiah, dan akan sangat mungkin terjadi perbedaan aturan mana yang diperlukan (seperti apakah aturan bahwa tidak boleh membunuh orang lain atau hukuman yang menjadi dasar larangan aborsi).

• Konsekuensialisme mendasari keputusan etis yang diambil karena merupakan cara analsis bagaimana konsekuensi atau hasil yang akan didapatkan dari berbagai pilihan dan tindakan. Tindakan yang benar adalah tindakan yang memberikan hasil yang terbaik. Tentunya ada berbagai perbedaan mengenai batasan hasil yang terbaik. Salah satu bentuk konsekuensialisme yang sangat dikenal adalah utilitarianisme, menggunakan ’utility’ untuk mengukur dan menentukan mana yang memberikan hasil yang paling baik diantara semua pilihan yang ada.
Ukuran-ukuran outcome yang digunakan dalam pembuatan keputusan medis antara lain cost-effectiveness dan kualitas hidup diukur sebagai QALYs (quality-adjusted life-years) atau DALYs (disablility-adjusted life-years). Pendukung teori ini umumnya tidak banyak menggunakan prinsip-prinsip karena sangat sulit mengidentifikasi, menentukan prioritas dan menerapkannya dan dalam suatu kasus mereka tidak mempertimbangkan apakah yang sebenarnya penting dalam pengambilan keputusan moral seperti hasil yang ingin dicapai. Karena mengesampingkan prinsip- prinsip maka konsekuensialisme sangat memungkinkan timbulnya pernyataan bahwa ”hasil yang didapat akan membenarkan cara yang ditempuh” seperti hak manusia dapat dikorbankan untuk mencapai tujuan sosial.

• Prinsiplisme, seperti yang tersirat dari namanya, mempergunakan prinsip-prinsip etik sebagai dasar dalam membuat keputusan moral. Prinsip-prinsip tersebut digunakan dalam kasus-kasus atau keadaan tertentu untuk menentukan hal yang benar yang harus dilakukan, dengan tetap mempertimbangkan aturan dan konsekuensi yang mungkin timbul. Prinsiplisme sangat berpengaruh dalam debat-debat etika baru-baru ini terutama di Amerika. Keempat prinsip dasar, penghargaan otonomi, berbuat baik berdasarkan kepentingan terbaik dari pasien, tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti pasien serta keadilan merupakan prinsip dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan etik di dalam praktek medis. Prinsip-prinsip tersebut jelas memiliki peran yang penting dalam pengambilaan keputusan rasional walaupun pilihan terhadap keempat prinsip tersebut dan terutama prioritas untuk menghargai otonomi di atas yang lain merupakan refleksi budaya liberal dari Barat dan tidak selalu universal. Terlebih lagi keempat prinsip tersebut sering kali saling bergesekan di dalam situasi tertentu sehingga diperlukan beberapa kriteria dan proses untuk memecahkan konflik tersebut.

• Etika budi pekerti kurang berfokus kepada pembuatan keputusan tetapi lebih kepada karakter dari si pengambil keputusan yang tercermin dari perilakunya. Nilai merupakan bentuk moral unggul. Seperti disebutkan di atas, satu nilai yang sangat penting untuk dokter adalah belas kasih. Yang lain termasuk kejujuran, bijak, dan dedikasi. Dokter dengan nilai-nilai tersebut akan lebih dapat membuat keputusan yang baik dan mengimplementasikannya dengan cara yang baik juga. Namun demikian, ada juga bahkan orang yang berbudi tersebut sering merasa tidak yakin bagaimana bertindak dalam keadaan tertentu dan tidak terbebas dari kemungkinan mengambil keputusan yang salah. Tidak satupun dari empat pendekatan ini, ataupun pendekatan yang lain dapat mencapai persetujuan yang universal. Setiap orang berbeda dalam memilih pendekatan rasional yang akan dipilih dalam mengambil keputusan etik seperti juga orang yang lebih memilih pendekatan yang non-rasional. Hal ini dikarenakan setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Mungkin dengan mengkombinasikan keempat pendekatan tersebut maka akan didapatkan keputusan etis yang rasional. Namun harus diperhatikan aturan dan prinsip-prinsip dengan cara mengidentifikasi pendekatan mana yang paling sesuai untuk situasi yang baru dihadapi dan juga dalam mengimplementsikan sebaik mungkin. Harus juga dipikirkan mengenai konsekuensi dari keputusan altenatif dan konsekuensi mana yang akan diambil. Yang terakhir adalah mencoba memastikan bahwa perilaku si pembuat keputusan tersebut dalam membuat dan mengimplementasikan keputusan yang sudah diambil juga baik. Proses yang dapat ditempuh adalah:
1. Tentukan apakah masalah yang sedang dihadapai adalah masalah etis.
2. Konsultasi kepada sumber-sumber kewenangan seperti kode etik dan kebijakan ikatan
dokter serta kolega lain untuk mengetahui bagaimana dokter biasanya berhadapan dengan masalah tersebut.
3. Pertimbangkan solusi alternatif berdasarkan prinsip dan nilai yang dipegang serta konsekuensinya.
4. Diskusikan usulan solusi anda dengan siapa solusi itu akan berpengaruh.
5. Buatlah keputusan dan lakukan segera, dengan tetap memperhatikan orang lain yang terpengaruh.
6. Evaluasi keputusan yang telah diambil dan bersiap untuk bertindak berbeda pada kesempatan yang lain.

KESIMPULAN
Bab ini menjadi dasar untuk bab-bab selanjutnya. Jika berhadapan dengan masalah dalam etika kedokteran, harus selalu diingat bahwa dokter telah menghadapi masalah yang sama selama perjalanan sejarahnya dan bahwa pengalaman serta kebijaksanaan akan sangat berarti pada saat ini. WMA dan ikatan dokter lain memikul tradisi ini dan memberikan berbagai acuan bagi dokter. Terlepas dari banyaknya ukuran konsensus dari dokter tentang masalah etik, namun setiap orang dapat saja berbeda bagaimana berhadapan dengan masalah tertentu. Terlebih pandangan dokter dapat berbeda dengan pasien dan penyedia layanan kesehatan lain. Langkah pertama dalam memecahkan masalah etik, penting bagi dokter untuk memahami berbagai pendekatan berbeda dalam mengambil keputusan etik diantara mereka dan dengan orang lain yang mana dokter terlibat dengannya. Hal ini akan membantu mereka menentukan jalan terbaik dalam bertindak dan menerangkan keputusan mereka kepada orang lain.

15 komentar:

srex aswinto mengatakan...

Fakultas kedokteran UMY itu baru seumur jagung. Mungkin belum ada lulusan dokter umum, apalagi+ dokter spesialis nya.
Saya sendiri belum pernah ketemu satupun dokter lulusannya sist.,.

cah bontot mengatakan...

Waah! maksih jadi nambah ilmu etika kedokteran ..btw kenapa mba posting ini ya? jadi penasaran nih ..
PS: Srex ... itu salah jurus PTS utk memoncerkan diri dipersaingan antar institusi FK yg kian ketat, biar ajalah.. atmosphere academic mrk msh blm terbentuk & teruji .. dan kalau kamu mau tahu lebih detail mslh Etik Medis khususnya di Indonesia.. lebih pas dg mas ku aja deh ... kebetulan dia ketua MKEK ha..ha..

Aishalife-line mengatakan...

@srex aswinto.
heheh justru umur jagung lebih tua beberapa kali lipat bro.yab,UMY masih baru.berdiri tahun 1993 dan sudah meluluskan 800 dokter.Sepertinya anda kurang komunikasi atau kurang fokus pada berita nih:)

Aishalife-line mengatakan...

@cahbontot
Tidak ada pp bro.mungkin karena akhir-akhir ini saya sering mendengar banyaknya pelanggaran medis, jadi tertarik untuk mempelajari hukum-hukum dan etika-etikanya.That's all bro hehe

PS: sebelumnya maaf,saya hanya belajar dan tidak ada pikiran untuk menyinggung anda,Dr srex ,atau dr-dr blogger lainnya .

srex aswinto mengatakan...

@ Ahh masa....800 orang dokter, data dari mana itu? apa sudah disumpah jadi dokter atau baru co Ass?

cah bontot mengatakan...

Mba Aisha, 800 dokter sejak thn 1993, eh sampai skrg kira2 16 th ya? ..utk pendidikan dokter minimal 6 thn bahkan sering lebih (terutama di swasta krn terbentur ujian & praktek koas-nya yg lebih sulit cari tempat), so if 16 th paling banter akan meluluskan 3 angkatan ....tp yg aneh jk seandainya 1 angkatan bisa lulus semua (ini amat jarang/hampir tdk pernah terjadi) maka 1 angkatan di UMY tsb bisa berjumlah antara 200 - 300 mhsw FK... suatu jmlh yg tidak rasional utk ukuran FK .. Mungkin UMY memang sdg getol2-nya bikin poros baru terutama mengklaim sbg center utk pendidikan dokter keluarga ...tp setahu saya nggak sebesar itu deh mrk meluluskan, btw ntar aku tanyakan ama dr. Agus Widyatmoko SpPD, dia adik kelas saya & Srex yg kebetulan menjadi pembantu dekan disono ya mba .... tks sdh concern dg dunia medis dg segala carut marutnya mba ..

mrpsycho mengatakan...

yg saya ketahui,setiap disiplin ilmu ada ilmu etikanya .. seperti yg saya dapat,etika teknik. Mungkin dirasakan sekedar pelengkap SKS,namun ada manfaat besar untuk mengasah nurani dan kepekaan tentang nilai2 kemanusiaan dan hati nurani

Abah mengatakan...

wah blog yanag bagus isinya salut,,,,,,,,,,
salam kenal aja neh mudah mudahan membawa barokah

Aishalife-line mengatakan...

@srex aswinto
saya terima data dari sekretaris UMY bro hihiih.

@cah bontot
sama-sama bro.Silahkan nanya bro ,mungkin dr. Agus Widyatmoko SpPD lebih tahu.
saya baca dari kompas fakultas kedokteran UMY tiap tahunnya mendapat 300-an pendaftar dan yang di terima hanya 200-an pendaftar bro.Jadi kalau selama 16 tahun meluluskan lebih dari 800 dokter,itu sudah benar.

@Mrpsycho
yub bro.

@Abah
salam kenal juga abah,thank you.

bongjun mengatakan...

bahkan perdukunanpun ada etikanya xixixi,....postingan ini sangat informatif,..thank's aisha.

Ariyanti Danurtiyas mengatakan...

Wow, informatif banget... Berguna banget informasi ini untuk masyarakat awam.
Salam kenal :)

ceuceusovi mengatakan...

you must be work hard to make this post. And it is very informative.. sukses ya sis..tambah banyak wawasan ni..

Aishalife-line mengatakan...

@Bonjun
nah saya perlu belajar juga tentang etika perdukunan nih,jagan lupa sharing ya bro hehhe.you're welcome bong.

@Ariyanti Danurtiyas
Happy reading sis.salam kenal juga.

@ceuceusovi
not too hard sis, heheh happy reading and thank you.

angga chen mengatakan...

artikelnya bagus...menurut gue sih kayaknya etika kadang hanya dijadikan sebuah wacana aja...aplikasinya kadang kadang susah susah gampang diterapkan..! padahal etika atau kode etik itu pegangan yang sangat penting...! thanks

Aishalife-line mengatakan...

@angga chen
thanks to you too.