07 Agustus, 2008

Pengalamanku

Bangun tidur pundak saya terasa sakit sekali, mungkin tidur saya kebanyakkan miring.Saya pijatkan tambah sakit, Saya diamkan takut nggak bisa bergerak seterusnya wah bahaya!Akhirnya ku pergi kedokter. Yang nanganin saya dokter dari Jerman. Dia ramah sekali dan kelihatan familiar tambah bahasa Arabnya fasih lagi, jadi enak kedengarannya bila dia berbicara. Saya dengerin aja saran-sarannya sambil terbengong-bengong, karena mungkin baru kali ini aku melihat orang eropa berbahasa Arab, dengan logat yang halus melebihi orang asli Arab sendiri. Sampai apa yang dia katakan tidak masuk ke telinga saya, hingga dia berkata:

Anda faham maksud saya? tersentak kaget saya.
O iya dokter saya faham, kataku sambil mencoba mengingat-ingat apa yang barusan dia katakan.Tapi percuma saja,nggak ingat juga. Mau tanya ulang malu,Karena sudah terlanjur bilang faham.Rasa malu ini sudah penyakit saya memang. Aaah sungguh sial!

Begitu waktu mau pulang,dokter memperkenalkan dirinya, memberi alamat rumah, nomer tlp dengan maksud apabila terjadi sesuatu lain kali saya bisa konsultasi di rumahnya saja.

Benar sekali, sampai 3 hari pundakku belum ada perubahan juga. Dan saya harus kedokter lagi,sampai di rumahnya yang membuka pintu istrinya.
willkommen..katanya sambil tersenyum.
Thank you , jawabku.
.............katanya berbicara panjang lebar. Saya nggak faham apa yang dia bicarakan sama sekali.
Excuse me, i can't speak German! kataku.
.................sambil tertawa.
gerrr.. aku dan dia tertawa bareng.Hahaha sama-sama nggak faham bahasa. Ternyata istri dokter ini hanya bisa berbahasa Jerman ,nggak bisa bahasa English maupun Arab, maupun Indonesia. Begitu juga saya nggak bisa Jerman sama sekali.Untung di situ ada kucing banyak yang jadi teman bicara saya selama nungguin dokter datang. Justru kucing malah faham dengan logat manapun. Subhanallah!

Kejadian yang ku alami ini membuat aku berfikir, bahwa begitu pentingnya bahasa-bahasa asing yang harus di pelajari sebagai alat komunikasi . Kita tidak tahu dan tidak menduga suatu saat kita harus bertemu dengan orang-orang yang memahami logat berbeda.Tapi apa yang aku perbuat? aku hanya suka beli buku-bukunya saja, aku pelajari sehari dua hari kemudian ku bosan. Aku lebih suka membaca buku-buku yang seperti novels, filsafat.
Kadang aku bertanya dalam hati kenapa aku lebih suka hiburan dari pada kepentingan? Aku selalu mencoba dengan paksa, bagaimana aku harus bisa manage mendahulukan yang lebih penting dalam cara hidup saya. Bisakah aku? I think it's easy to say,but not easy to do .

Curhat

2 komentar:

Abi Bakar mengatakan...

Mustinya si istri dokter yg belajar bahasa Arab dong kan dia menetap disana Reg.

Aisha mengatakan...

Iya mustinya yah bie. kata Dokternya dia baru saja datang dari Jerman. Ya maklum lah! Yang netap dan study di Arab itu Dokternya saja.